Ini mestinya di-post nggak berapa lama dari postingan yang terakhir, Maaf-maafan...cuma karena terus ada masalah sedikit dgn laptop trus harus berangkat keluar kota jadi baru bisa sore ini...ndak papa-lah, mdh2an masih nyambung.
Menariknya dari sms atau bbman permohonan maaf sebelum puasa Ramadhan yang banyak saya terima dari temen-temen adalah juga gaya penyampaian yang dipake--terlepas dari itu bikin sendiri atau mungkin lebih banyak copy paste-nya, beragam. Salah satunya tuh yang saya terima di malam persis sebelum 1 Ramadhan versi Pemerintah, bbm lengkap mulai dari ayat bertulisan Arab plus terjemahnya dan tentu saja permohonan maaf bergaya prosa lama.
Menariknya dari sms atau bbman permohonan maaf sebelum puasa Ramadhan yang banyak saya terima dari temen-temen adalah juga gaya penyampaian yang dipake--terlepas dari itu bikin sendiri atau mungkin lebih banyak copy paste-nya, beragam. Salah satunya tuh yang saya terima di malam persis sebelum 1 Ramadhan versi Pemerintah, bbm lengkap mulai dari ayat bertulisan Arab plus terjemahnya dan tentu saja permohonan maaf bergaya prosa lama.
Ayat itu adalah
ayat soal perintahNya untuk kita, kaum muslim yang beriman, untuk berpuasa. Ini
saya nggak berniat sok-sokan jadi pengamat puasa, jadi ahli
agama Islam, ustad atau kiai, enggak
juga sok-sokan jadi ahli tafsir
apalagi berniat jadi orang yang memimpin majlis umat yang bisa mempengaruhi
jamaahnya..nggak ada sama sekali,
saya hanya ingin sampaikan apa yang saya baca, obrolin, pikirin dan pahami.
Jadi sangat personal, sangat ‘menurut pemahaman saya’ namun tidak menutup untuk
diobrolin, didiskusiin, untuk jadi bahan obrolan
temen-temen juga.
Ayat yang
kemudian membuat saya baru ngeh untuk
memikirkan-nya meskipun seringkali saya baca menjelang puasa sejak saya di SD
mungkin, itu adalah:
‘Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa’.
Ini dari
surat Al Baqarah ayat 183, terbacanya sederhana yaitu perintah untuk puasa dan
itu wajib hukumnya..jadi massage yang
tersampaikan selama ini adalah simple
kita sebagai orang Islam harus puasa di bulan ramadhan dengan segala ‘uba rampe’ peribadahan-nya, semua amalan
baik akan mendapat pahala berlipat bahkan tidur, diam pun mendapat pahala dan
di akhir puasa kita akan mendapatkan kemenangan, kembali bersih, kembali
fitrah, kembali suci katanya..seperti dilahirkan kembali.
‘Promosi’ tentang
perbanyak ibadah, beramal baikpun nggak
kurang-kurang mulai dari menahan diri dari nafsu sampe menyelesaikan/khataman
baca Al Quran, pokoknya berlomba-lomba perbanyak ibadah di bulan
Ramadahan..hanya di bulan ini saja kayaknya
‘promo’ itu berlaku. Sehingga tidak heran dalam bulan Ramadhan ini tiba-tiba lebih
banyak orang yang ‘beribadah’, berbuat baik, beramal kebaikan, menjadi orang
yang agamis lengkap dengan ciri-cirinya agar orang lainpun bisa 'melihat’nya.
Tapi, apa iya Allah memewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadhan hanya untuk
berlomba perbanyak ibadah? Apa ada ukuran atau tanda keberhasilan orang
berpuasa di bulan Ramadhan? Kenapa di akhir Ramadhan kita disebut kembali
fitri?
Saya pikir,
ini menurut pendapat saya lho, Tuhan Yang Maha Tahu, Yang Ar Rahman Ar Rahim
mewajibkan kita berpuasa itu simple untuk
memberi kita kesempatan mengingat, melatih, belajar, berusaha untuk kembali
berada di jalanNya, untuk kembali on
track.agar sesuai dengan tujuanNya mencipta manusia yaitu untuk
menyembahNya, untuk ta’at pada perintahNya, untuk menjadi taqwa.
Ayat yang
paling popular tentang penciptaan tujuan manusia itu adalah,
“Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, Al Quran surat Adz-Dzariyat
ayat 56.
Jadi, pada
saat kita dengan ta’atnya menjalankan puasa— puasa Ramadhan ini bener-bener
perlu ketaatan individu, kita harus bener-bener patuh taat sama aturanNya dan
puasa adalah satu-satunya ibadah untukNya karena yang tau hanya kita dan
Allah-- yang harus ada di benak kita adalah bahwa kita sedang berlatih,
menggembleng diri agar nantinya setelah Rhamadan selesai kita sudah bisa dan
biasa lagi di track-Nya. Maka itulah
ukuran keberhasilan puasa di bulan Ramadhan, yaitu menjadi manusia yang sesuai
dengan tujuanNya, manusia yang selalu mengingat
Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring setiap waktu bukan hanya pada saat bulan Ramadhan…bulan Ramadhan itu short course –nya. Simple tadi katanya? Baca, nulisnya yang simple,
gampang..melakukan-nya? Tentu saja sulit banget, berat sekali untuk ukuran
manusia dan Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana karenanya menyediakan
1bulan dari 12 bulan untuk kita berlatih lagi dan berlatih lagi..Dan karena Allah itu tau persis bagaimana karakter ciptaanNya, maka disiapkan-lah program puasa ini lengkap dengan incentive-nya yang sangat berlimpah dan amat generous untuk
memotivasi manusia untuk malekukan-nya kembali, kembali berlatih, kembali
digembleng utk berlatih agar di akhir program kita sudah mahir
dijalan-Nya.Subhanallah.
Dan untuk yang sudah berpuluh-puluh kali latihan, mestinya sungkan juga ya kalo
nggak ‘bisa-bisa’, kalo nggak ‘pinter-pinter’, nggak mahir-mahir..
Jadi, ok banget untuk
berlomba-lomba, berbanyak-banyak ibadah, menyelesaikan kursus kilat menamatkan
pesantren Illahiah-nya dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan, dengan khusuk beramal-ibadah namun hal ini harus
berdasar pada niat murni, kesadaran untuk setiap kita diberiNya kesempatan berlatih
di bulan Ramadhan kita semestinyalah semakin bisa, semakin pintar, semakin mahir, semakin mumpuni di jalurNya. Sukur-sukur
kemudian menjadi terbiasa pinter, tertradisi mahirnya…in shaa Allah. Gitu
kira-kira yang kepikiran selama ini..
Eh, lha kenapa kembali fitri-nya
gimana? Kembali suci seperti dilahirkan kembalinya? Ini ya sebenernya nggak ada kaitan-nya antara
arti Fitri dengan Fitrah yang diartikan seperti dilahirkan kembali,kembali
suci. Kalo maksudnya Fitrah itu kembali suci seperti bayi yang kurang pas juga..wong
fitrah itu lebih ke nilai hakikat-nya, menurut saya lho ini. Dan kalo itu
menjadi hakikatnya manusia sejak awal diciptakan ya seperti ayat 56 surat
Adz-Dzariyat itu..untuk
menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan menyembah itu artinya taat, tunduk,
takluk, selalu ingat akan ketentuanNya. Sedang Fitri saya ambil dari
pendapatnya
Prof. Dr. Nasaruddin
Umar, saja, beliau Guru Besar bidang Tafsir yang juga Pembantu Rektor III
di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; “Kita punya istilah ‘id. Dalam
Islam, ada Idul Fitri ada Idul Adha. ‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar
kata ‘ada,kembali. Secara etimologis, Idul Fitri berarti “kembali berbuka.” Ini
mungkin juga sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang al-fitr. Selama ini,
Idul Fitri diartikan “kembali ke fitrah.” Sebenarnya yang tepat adalah
“kembali berbuka.” Fitr berbeda dengan fitrah. Satu fatarah, satu fitrah
memakai ta’ marbutah, sedangkan al-fitr dalam kata IdulFitri tidak memakai ta’
marbutah”, diambil langsung dari halaman Scribd.
Tuh,
jelas banget ya..jadi nggak perlu ditambahi pendapatnya pak Nasaruddin itu, saya
sependapat.
Pinggir
kali Kranduan Sleman,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar