Jumat, 18 Juli 2014

Promosi Illahiah



Ini mestinya di-post nggak berapa lama dari postingan yang terakhir, Maaf-maafan...cuma karena terus ada masalah sedikit dgn laptop trus harus berangkat keluar kota jadi baru bisa sore ini...ndak papa-lah, mdh2an masih nyambung.

Menariknya dari sms atau bbman permohonan maaf sebelum puasa Ramadhan yang banyak saya terima dari temen-temen adalah juga gaya penyampaian yang dipake--terlepas dari itu bikin sendiri atau mungkin lebih banyak copy paste-nya, beragam. Salah satunya tuh yang saya terima di malam persis sebelum 1 Ramadhan versi Pemerintah, bbm lengkap mulai dari ayat bertulisan Arab plus terjemahnya dan tentu saja permohonan maaf bergaya prosa lama.
Ayat itu adalah ayat soal perintahNya untuk kita, kaum muslim yang beriman, untuk berpuasa. Ini saya nggak berniat sok-sokan jadi pengamat puasa, jadi ahli agama Islam, ustad atau kiai, enggak juga sok-sokan jadi ahli tafsir apalagi berniat jadi orang yang memimpin majlis umat yang bisa mempengaruhi jamaahnya..nggak ada sama sekali, saya hanya ingin sampaikan apa yang saya baca, obrolin, pikirin dan pahami. Jadi sangat personal, sangat ‘menurut pemahaman saya’ namun tidak menutup untuk diobrolin, didiskusiin, untuk jadi bahan obrolan temen-temen  juga.

Ayat yang kemudian membuat saya baru ngeh untuk memikirkan-nya meskipun seringkali saya baca menjelang puasa sejak saya di SD mungkin, itu adalah:
 Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. 
Ini dari surat Al Baqarah ayat 183, terbacanya sederhana yaitu perintah untuk puasa dan itu wajib hukumnya..jadi massage yang tersampaikan selama ini adalah simple kita sebagai orang Islam harus puasa di bulan ramadhan dengan segala ‘uba rampe’ peribadahan-nya, semua amalan baik akan mendapat pahala berlipat bahkan tidur, diam pun mendapat pahala dan di akhir puasa kita akan mendapatkan kemenangan, kembali bersih, kembali fitrah, kembali suci katanya..seperti dilahirkan kembali.

 ‘Promosi’ tentang perbanyak ibadah, beramal baikpun nggak kurang-kurang mulai dari menahan diri dari nafsu sampe menyelesaikan/khataman baca Al Quran, pokoknya berlomba-lomba perbanyak ibadah di bulan Ramadahan..hanya di bulan ini saja kayaknya ‘promo’ itu berlaku. Sehingga tidak heran dalam bulan Ramadhan ini tiba-tiba lebih banyak orang yang ‘beribadah’, berbuat baik, beramal kebaikan, menjadi orang yang agamis lengkap dengan ciri-cirinya agar orang lainpun bisa 'melihat’nya. Tapi, apa iya Allah memewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadhan hanya untuk berlomba perbanyak ibadah? Apa ada ukuran atau tanda keberhasilan orang berpuasa di bulan Ramadhan? Kenapa di akhir Ramadhan kita disebut kembali fitri?

Saya pikir, ini menurut pendapat saya lho, Tuhan Yang Maha Tahu, Yang Ar Rahman Ar Rahim mewajibkan kita berpuasa itu simple untuk memberi kita kesempatan mengingat, melatih, belajar, berusaha untuk kembali berada di jalanNya, untuk kembali on track.agar sesuai dengan tujuanNya mencipta manusia yaitu untuk menyembahNya, untuk ta’at pada perintahNya, untuk menjadi taqwa. 

 Ayat yang paling popular tentang penciptaan tujuan manusia itu adalah,
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, Al Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56.
Jadi, pada saat kita dengan ta’atnya menjalankan puasa— puasa Ramadhan ini bener-bener perlu ketaatan individu, kita harus bener-bener patuh taat sama aturanNya dan puasa adalah satu-satunya ibadah untukNya karena yang tau hanya kita dan Allah-- yang harus ada di benak kita adalah bahwa kita sedang berlatih, menggembleng diri agar nantinya setelah Rhamadan selesai kita sudah bisa dan biasa lagi di track-Nya. Maka itulah ukuran keberhasilan puasa di bulan Ramadhan, yaitu menjadi manusia yang sesuai dengan tujuanNya, manusia yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring setiap waktu bukan hanya pada saat bulan Ramadhan…bulan Ramadhan itu short course –nya. Simple tadi katanya? Baca, nulisnya yang simple, gampang..melakukan-nya? Tentu saja sulit banget, berat sekali untuk ukuran manusia dan Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana karenanya menyediakan 1bulan dari 12 bulan untuk kita berlatih lagi dan berlatih lagi..Dan karena Allah itu tau persis bagaimana karakter ciptaanNya, maka disiapkan-lah program puasa ini lengkap dengan incentive-nya yang sangat berlimpah dan amat generous untuk memotivasi manusia untuk malekukan-nya kembali, kembali berlatih, kembali digembleng utk berlatih agar di akhir program kita sudah mahir dijalan-Nya.Subhanallah. Dan untuk yang sudah berpuluh-puluh kali latihan, mestinya sungkan juga ya kalo nggak ‘bisa-bisa’, kalo nggak ‘pinter-pinter’, nggak mahir-mahir..

Jadi, ok banget untuk berlomba-lomba, berbanyak-banyak ibadah, menyelesaikan kursus kilat menamatkan pesantren Illahiah-nya dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan, dengan khusuk beramal-ibadah namun hal ini harus berdasar pada niat murni, kesadaran untuk setiap kita diberiNya kesempatan berlatih di bulan Ramadhan kita semestinyalah semakin bisa, semakin pintar, semakin mahir, semakin mumpuni di jalurNya. Sukur-sukur kemudian menjadi terbiasa pinter, tertradisi mahirnya…in shaa Allah. Gitu kira-kira yang kepikiran selama ini..

Eh, lha kenapa kembali fitri-nya gimana? Kembali suci seperti dilahirkan kembalinya?               Ini ya sebenernya nggak ada kaitan-nya antara arti Fitri dengan Fitrah yang diartikan seperti dilahirkan kembali,kembali suci. Kalo maksudnya Fitrah itu kembali suci seperti bayi yang kurang pas juga..wong fitrah itu lebih ke nilai hakikat-nya, menurut saya lho ini. Dan kalo itu menjadi hakikatnya manusia sejak awal diciptakan ya seperti ayat 56 surat Adz-Dzariyat itu..untuk menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan menyembah itu artinya taat, tunduk, takluk, selalu ingat akan ketentuanNya. Sedang Fitri saya ambil dari pendapatnya Prof. Dr. Nasaruddin Umar, saja, beliau Guru Besar bidang Tafsir yang juga Pembantu Rektor III di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; “Kita punya istilah ‘id. Dalam Islam, ada Idul Fitri ada Idul Adha. ‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘ada,kembali. Secara etimologis, Idul Fitri berarti “kembali berbuka.” Ini mungkin juga sekaligus meluruskan pemahaman kita tentang al-fitr. Selama ini, Idul Fitri diartikan “kembali ke fitrah.” Sebenarnya yang tepat adalah “kembali berbuka.” Fitr berbeda dengan fitrah. Satu fatarah, satu fitrah memakai ta’ marbutah, sedangkan al-fitr dalam kata IdulFitri tidak memakai ta’ marbutah”, diambil langsung dari halaman Scribd.                                                                                                                                             
 Tuh, jelas banget ya..jadi nggak perlu ditambahi pendapatnya pak Nasaruddin itu, saya sependapat.

Pinggir kali Kranduan Sleman,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar