Topik ini sudah
kepikiran dan kepingin saya tuangkan sejak 2 taunan lalu sejak
saya merasa tiba-tiba banyak banget sms
dan bbm dari temen-temen yang inti isinya
sama yaitu mengenai permohonan maaf lahir batin menjelang puasa di bulan
ramadhan, taun-taun sebelumnya ya sudah ada dari beberapa temen tapi tidak se-semarak taun
itu. Seperti ditulis di sms atau bbmnya, tujuan-nya agar nanti tidurnya menjadi
ibadah, doanya akan dikabulkan dan semua amalan baik berbuah pahala yang
berlipat. Sampe-sampe kalo salah menginterpretasikannya
bisa-bisa ‘ditangkap’ seperti ‘Kalo nggak
bermaafan dulu sebelum puasa Ramadhan, maka puasa-nya akan sia-sia, tidak sah’,
bahkan menjadi kayak yang bersalah banget’. Penyampaiannya-pun dengan
bahasa dan gaya yang macem-macem ada
yang menggunakan bahasa daerah, bahasa Indonesia sampe ke bahasa Arab baik
latin maupun tulisannya. Ada yang penyampaian-nya sangat sederhana - gaya
penulisan minimalis, ada yang gaya berpantun, ada juga yang mirip puisi dengan
kata-kata yang kayaknya cuma
digunakan di karya-karya prosa jaman-nya pujangga lama atau era awal pujangga
baru. Yang kirim-pun bukan hanya temen-temen muslim, tapi yang beragama lainpun
ikutan berpartisipasi sehingga ‘suasana sms dan bbm-an’-nya sudah seperti kalo
pas lebaran. Uniknya maaf-maafan menyambut bulan Ramadhan ini baru terjadi 4-5
tahun ke belakang, makin kesini makin riuh..nggak
tau juga apa penyebab persisnya dan ini terus jadi trend, jadi kebiasaan
baru menjelang puasa di bulan ramadhan..Saya-pun ikut trendy taun ini, kuatir nggak sah puasanya, sembari mencari tau gimana awalnya
.
Coba kita baca
cerita dibawah ini, saya seringkali baca kisah ini dengan inti cerita yang sama.
Saya nggak dapet sumber awal-nya hanya saja banyak beredar di media tulis, yang
kemudian saya ekstrak jadi seperti ini,
‘Ketika
Rasullullah sedang berhotbah pada suatu Sholat Jum’at dalam bulan Sya’ban, beliau
mengatakan ‘aamiin’ sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar
Rasullullah mengatakan aamiin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan aamiin
meskipun tidak biasa dan tidak mengerti kenapa Rasullullah berkata aamin sampai
tiga kali. Maka selesai sholat Jum’at para sahabat mempertanyakanhal tersebut
kepada Rasullullah dan beliau menjelaskan: “Ketika aku sedang berhotbah,
datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do’a ku ini,”
jawab Rasullullah. Do’a Malaikat Zibril itu adalah: “Ya
Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan
Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih
dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih
dahulu antara suami istri; Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang
sekitarnya..maka Rasulullahpun meng-aamin-i sebanyak 3 kali.
Kemungkinan-nya, ini mungkin lho..ada waktu distorsi penyampaian, ada improvisasi disitu, ada tambah-kurang interpretasi yang menjadikannya kurang tepat dengan kisah yang sebenarnya, dari kisah yang valid, dari kisah yang shahih..dan proses ini butuh waktu distribusi juga. Oh iya, kisah yang berisikan sikap, perilaku, ucapan dan seputar Rasulullah SAW disebut hadits, dan ini tentu saja ada yang benar, valid dan ada yang sudah melalui ‘modifikasi’ atau misinterpretasi sehingga agak tidak sesuai dengan hadits sebenarnya.
Nah, kemungkinan saya itu didasari oleh beberapa analisa para ahli hadits dan juga dari kitab-kitab yang mereka baca dan saya jadi paham. Ini ada 2 (dua) hadits yang kemungkinan terdistorsi, terimprovisasi dalam pengkomunikasiannya atau terinterpretasi kurang tepat pemahaman-nya kemudian dikomunikasikannya.
Yang pertama, diambil dari Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin]. Disalin dari Sifat Puasa Nabi SAW, hal. 27-28, Pustaka Al-Haura--- (sumber: muslimsunnah.wordpress)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, (bahwasanya) Rasulullah SAW pernah naik mimbar kemudian berkata : Aamiin, aamiin, aamiin" Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan aamiin, aamiin, aamiin?" Beliau bersabda. "Artinya : Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "aamiin", maka akupun mengucapkan aamiin...."
Sementara, yang lebih panjang dan lengkap, diambil dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam, Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644(Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)-- (sumber: muslimsunnah.wordpress)
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Aamiin, aamiin, aamiin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Aamiin, aamiin, aamiin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad, celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah aamiin!', maka kukatakan 'aamiin'. Kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah aamiin!', maka aku berkata : 'aamiin'. Kemudian Jibril berkata lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah aamiin', maka kukatakan, 'Aamiin".
Tuh, jadi kalo dibaca dari hadits yang jelas sumbernya mah, tidak ada hubungan dengan keharusan bermaafan sebelum puasa Ramadhan. Tapi apa ya salah? Atau ada sumber lain?
Yang jelas saling memaafkan itu sama sekali nggak salah, bagus banget malah. Mana ada agama yang tidak menganjurkan umatnya utk tidak saling memaafkan? Menurut saya, akan lebih bagus lagi nilai-nya, lebih indah lagi hubungan-nya, lebih menentramkan hati lagi kalau permohonan maaf itu keluar dari niat yang baik dan untuk setiap kesalahan, kekeliruan pikir, ucap, sikap dan tingkah laku kita yang tidak sengaja apalagi yang kita sengaja..tidak harus pada saat menjelang puasa, tidak harus pada saat setelah lebaran.Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pemaaf mesti akan lebih memaafkan kita kalo kita bisa menyemarakan tradisi ini..aamiin.aamiin.aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar