Jumat, 18 Juli 2014

Kekinian hikayat Kerajaan



Tentang isi tulisan ini sebenernya adalah ‘pandangan dan menurut pendapat saya’ yang tertunda sekitar 7 atau 8 tahun, dan sekarang saya bisa tuangkan .                                                                                                                                        
 Selalu menarik dan menyenangkan membaca, mendengar, melihat, ngobrolin hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, apakah itu mitos mengenai sebuah tempat atau tokoh, legenda tokoh-tokoh, kisah tentang asal-usul yang dicerita-ulangkan, film-film bertema kesejarahan atau novel  ber-seting sejarah suatu kerajaan atau seputar tokohnya sampai ke babad (tulisan para penulis masa lalu atau pujangga, yang berdasarkan pesanan pejabat menulis kisah yang didapat dari tutur turun temurun umumnya tentang tokoh dan seputar kehidupannya di suatu masa dan tempat, umumnya berisi sejarah, legenda dan hikayat yang kebenaran-nya harus ditelaah oleh yang memang ahli, kompeten di bidang ini) yang  banyak dipakai menjadi acuan penulisan ulang sejarah.


Baru beberapa taunan ini kayaknya ramai bermunculan kembali novel-novel berlatar sejarah hampir semua tokoh atau kerajaan masa lalu Indonesia, yang dulu adalah Nusantara sekarang sudah ada novelnya. Dan kalo penulisnya mumpuni dalam ‘bercerita’ mengenai seorang tokoh atau sebuah kerajaan, maka kita seperti ‘diajak’ ikut masuk ke dalam cerita, diajak ‘menikmati’ suasana jaman itu. Kita diajak untuk tau, untuk menikmati situasi, kondisi, suasana masyarakat, suasana pasar, bangunan kerajaan, bagaimana rseorang raja atau sultan mengelola kerajaan-nya atau kesultanan-nya. Bagaimana kita diajak mengagumi betapa ‘manusia luar biasa’-nya para tokoh sejarah kita ini, bagaimana mereka berinteraksi, menghadapi berbagai macam intrik, konflik, perseteruan, pemberontakan bahkan perang. Bagaimana perkasanya bangsa ini, negara ini..bagaimana suasana ketika Raja atau Sultan mengadakan pasewakan agung, pertemuan para utusan, bagaimana keputusan diambil untuk menjadi bangsa dan negara yang besar itu. Kita seolah ikutan didalam seting itu, kita ikut merasakan pedihnya perang, bencinya pada penghianatan, dongkolnya pada persekongkolan, bahagianya kemenangan, bangganya menjadi bangsa besar, gugupnya menghadap Raja pada saat bersalah atau menyampaikan kabar tidak baik, kagumnya melihat kecantikan para permaisuri..para tokoh-tokoh putri-putri kedaton.

Namun itu seketika pudar begitu halaman ditutup dan menyadari kita hidup di jaman sekarang lengkap dengan kompleksitas dan sistem kehidupan berbangsa dan bernegaranya yang katanya sistem pemerintahan modern dan jauh dari yang dulu para raja, perdana menteri dan patih yang pernah jalankan. Yang masih terbawa itu malah pedihnya, bencinya, dongkolnya dengan apa yang terjadi di negera tercinta ini. Pedih karena sebagai bangsa kita masih jauh dari senang, makmur dan sejahtera. Benci karena dalam keadaan susah ada golongan yang memanfaatkan itu untuk kepentingnya, benci karena  ada banyak kelompok pejabat negara yang mestinya terhormat malah sangat tidak ada ‘hormat’-hormat’nya sama sekali dan mereka bangga akan itu. Dongkol karena sudah banyak memberi dukungan mulai dari doa restu, pemilihan, gajih bulanan, prefilese lain kepada yang katanya mewakili kita ternyata sangat tidak mewakili kita malah masih minta kita bayar lebih-lebih dan masih juga ambil uang sana-sini seperti kesetanan. Dan kondisi begitu itu ya sudah digambarkan sejak adanya kerjaan pertama di tanah air kita ini, abad-abad 6-7...nggak maju-maju, bedanya waktu dulu itu kita berdaulat dan di-akui keperkasaan sebagai bangsa yang besar sampai jauh keluar wilayah kita sekarang .


Karenanya saya terus membayangkan dan merasakan suasana  tentang negara dan bangsa tercinta ini ketika pernah makmur, sejahtera, berdaulat di wilayah yang luas, diakui keperkasaan-nya, yang bisa menyelesaikan intrik, konflik, penghianatan, persekongkolan, pemberontakan, peperangan..dan tau nggak, jaman kita besar dulu itu negara ini tanpa lembaga yang berisi wakil-wakil rakyat! Dan tidak ada partai politik!
Jadi saya pikir-pikir, menurut pendapat saya, apa iya kita perlu njalanin sistem pemerintahan yang katanya modern tapi kondisinya dibanding abad 15 gitu kualitasnya nggak lebih baik? Apa perlu ada lembaga wakil-wakil rakyat ya? Terus kenapa dulu itu kita kok harus milih ikut sistem pemerintahan yang punya negara lain padahal kita sudah cukup bukti negara dan bangsa kita bisa besar dengan sistem pemerintahan yang khas, spesifik dan cocok buat rakyat, bangsa dan negara kita tercinta ini. Kalaupun kemudian mau dibikin modern ya bikin sendiri saja yang sesuai  dengan nilai-nilai berbangsa dan bernegara rakyat kita ini yang sudah ada sejak abad 7 atau bahkan sebelumnya. Kan nggak bakal ada yang menghukum kalo beda juga, wong kita negara berdaulat yang bisa menentukan sendiri model bernegaranya.

Gimana kalo gini..menurut saya lho ini, kita ambil salah satu aspek pemerintahan aja dulu ya yaitu tentang lembaga perwakilan rakyat. Kita ambil dari pengalaman sejarah kita yang sudah pasti-pasti terbukti berhasil, kalo ambil punya negara lain kan berbeda latar belakang-nya. Setelah itu kita juga ambil dari model pengelolaan organisasi perusahaan (yang kalo dipikir-pikir, mirip-mirip model pemerintahan otokrasi lho…model kerajaan gitu) yang sesuai juga dengan karakter rakyat, bangsa kita.  Jadinya kayak gini kira-kira, semua elemen pemerintahan tetep ada kecuali lembaga perwakilan rakyat baik di pusat maun di daerah di tidak adakan, kemudian lembaga-lambaga pemerintahan dimodifikasi, disesuaikan mekanisme kerjanya. Presiden dan para pembantunya bertanggung jawab, akuntabel untuk menjalankan pemerintahan dan memastikan rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Presiden dan para pembantunya juga akuntabel untuk memastikan sistem suksesi berjalan tanpa KKN. Lha terus yang ngurusin legislasi siapa?

Yang melakukan telaah hukum dan undang-undang ya tentu saja lembaga-lembaga hukum, kan tetap ada dan berjalan.  Untuk verifikasi, pengesahan apakah ini aplikatif bagi seluruh rakyat maka perlu ada—kalo dalam manajemen perusahaan, National Meeting yang dihadiri oleh wakil dari daerah tergantung scope-nya. Siapa mereka? Ya para Gubernur, atau Walikota-Bupati dst.  Jadi diundanglah para Gubernur sebagai wakil dari rakyat yang daerahnya dia pimpin untuk mendiskusikan mengenai paparan undang-undang yang akan diterapkan. Tentu saja dia harus tau persis mengenai apa yang cocok atau tidaknya, baik atau tidaknya bagi rakyat yang diwakili dan nantinya akan dibawakan dalam regional meeting yang di bahas dengan staf pembantu dan para Walikota-Bupati. Apabila semua OK maka presiden tingal mengesahkan, dan apabila tidak maka daerah-daerah yang belum OK akan mendapat perhatian khusus dalam memahaminya. Gitu kira-kira, ini lebih cepat, lebih ekonomis, jauh mengurangi potensi konflik. Tapi persekongkolan dan KKNnya malah bisa tinggi banget mungkin? Semua sistem ada potensi resiko tapi kalo memang mau benahin ya nantinya semua piranti kontrol dan mekanismenya harus dibuat lebih ‘aman’, dan nggak bisa hanya dari ‘menurut pendapat saya’ ini aja atuh.

 Jadi kepala pemerintahan tetep presiden sistem pemerintahannya semi kerajaan, kenapa tidak kan? Eh, kita pernah punya dan mengalami jaman dengan sistem seperti ini kayaknya, dan cukup berhasil lho menurut saya dari pandangan hidup rakyat sih. Hanya saja waktu itu keterusan dan lupa bahwa bangsa kita itu masih ditingkat ‘dikasih ati minta rempela’ yang untuk jenis ini perlu banget aturan, hukum yang tegas. Nah, belajar dari situ kita bisa kembangan sistem pemerintahan seperti yang saya paparkan diatas, dan kasih nama sendiri aja…PRESTOKRASI, gimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar