Ngantuk masih kerasa banget waktu pesawat yang saya tumpangi touch down di airport Juanda, setelah menempuh 35 menit terbang dari aitport Ngurah Rai di Denpasar. Sejak hari Selasa lalu saya ngabisin waktu di Denpasar untuk urusan kerjaan, lebih dari cukup untuk bikin kepala puyeng, tidur kurang dan ditambah batuk-pilek yang kayaknya betah banget main-main di badan.
Di pesawat yang tadi saya tumpangi, saya memilih untuk duduk di seat sebelah jendela. Alasannya, bisa liat-liat pemandangan dari ketinggian pada saat take-off dan landing disamping untuk nggak mesti terburu-buru kalo mau turun dari pesawat. Dan yang lebih real-nya, kalo tidur nggak ganggu tetangga sebelah. Nah, waktu memasuki pesawat untuk kemudian duduk di nomer kursi sesuai boarding pass, seseorang udah duduk di kursi tengah. Abis masukin laptop dan ransel ke kabin pesawat sayapun permisi ke orang itu. Dengan sregep dia berdiri dan mempersilahkan saya untuk masuk, sopan sekali. Begitu duduk dia langsung nyapa “ Kemana mas?”. Wah ini, sudah jelas pesawat jurusan Surabaya kok masih tanya mau kemana lho, saya mbatin. Tapi saya jawab juga “mau ke Surabaya”. Ternyata itu awal pembuka yang cukup efektif untuk memulai conversation selanjutnya..
“Dari Surabaya terus mau kemana mas?”, saya memang jarang betul untuk ngobrol sesama penumpang pada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Saya lebih memilih untuk kalo ndak baca buku, koran, majalah, ya liat-liat pemandangan luar atau malah tidur—kuatir mengganggu kalau mau ngajak ngobrol.
“ Brenti di Surabaya mas” jawab saya. “Sedang tugas atau pulang week end?”, lho kok terus nyambung. “Ya ndak tugas mas wong Sabtu-Minggu begini…”.
“Tinggal di Surabaya? Kerja dimana mas?”.
“Iya, tinggal di Surabaya, tapi rumah di Jakarta…saya kerja di Sebuah perusahaan swasta”
“Keliling-keliling terus ya? Surabaya, Bali, Jakarta?”
“Heh.he.he..biasa aja namanya juga tugas, kalo untuk maen ya mungkin nyenengake..Mas-nya kerja, ada bisinis di Bali?” saya tanya balik dong untuk nunjukin bahwa we are in equal in the conversation.
Pertanyaan saya itu agaknya memang dia tunggu-tunggu..
”Saya HRD consultant” katanya, “Perusahaannya mestinya ya perlu untuk punya konsultan mas”. Lha ini..kok ya bisa-bisanya orang ini kemudian dengan PDnya bilang perusahaan dimana saya bekerja mestinya perlu konsultan. Saya jawab “Ya kalo untuk pengembangan HRD, di perusahaan kami udah ada departemen yang memang ngurusi itu mas..”. “Bukan itu yang dimaksud mas..tapi konsultan untuk orang-orang yang mau pensiun..”
Hebat orang ini pikir saya, mau mengkolsutani orang-orang yang bakal pensiun.Saya jadi teringat beberapa bulan yang lalu pernah dimintai tolong untuk membantu kawan untuk hal yang sama. “Saya pernah ditawari temen yang punya usaha bidang konsultasi HRD juga untuk mbantu memberikan pembekalan kepada karyawan yang mau pensiun atau dipensiunkan juga mas” balas saya, “Saya diminta untuk menyiapkan program yang lebih ke mental attitude, lebih soft cpmpetenciesnya mas. Saya punya kelompok latihan pernapasan yang salah satu tujuannya untuk menyelaraskan cipta-rasa-karsa sehingga diharap bisa menyeimbangkan kesiapan mental, spiritual dan wawasan dalam memandang hidup pasca-pensiun”..Opo ora hebat pikir saya.
“Cipta, rasa, karsa? Apa nama kelompoknya mas”, “Harmoni Cakra..”
“Jadi untuk keharmonisan itu ya?”. Obrolan pun brenti disitu. Saya kemudian ambil Inflight Magazine--majalah yang diterbitkan oleh perusahaan penerbangan untuk dibaca para penumpangnya--dan mulai baca.
Eh, dia mulai lagi dengan penumpang yang duduk disebelah lainnya sekarang..dengan konsep pembuka yang sama, “Kemana lanjutan dari Surabaya?....”, sayapun sudah tidak ingin dengar obrolan seterusnya, tenggelam dalam bacaan saya mengenai Admiral Cheng Ho dan festival Cheng Ho di Semarang.
Lagi asik-asiknya membayangkan bagaimana Cheng Ho, seorang admiral pada jaman kekaisaran Ming bertualang ke negara-negara Asia, kawan ini kembali ke arah saya. “Saya juga punya usaha yang menurut saya baru pertama di dunia!”. Weeh, apa lagi ini? Bombastis banget ngawalinya dan sangat mengundang rasa keingin-tahuan saya. Bener-bener seorang penjual orang ini pikir saya. Dia nerusin “Kalo mau, sekali-sekali jalan ke Malang coba pake Tansportasi Sehat milik usaha saya ini” sambil kemudian menyerahkan bisnis card agen tranportasinya. Tertulis di kartu tersedia kursi yang dapat memijat, digital tensimeter, plug-in untuk laptop dan charger HP..Luar biasa!, saya pikir pasti mahal biayanya untuk ke Malang dari Surabaya dengan menggunakan mobil van jenis khusus ini. “Jadi selama perjalanan, begitu sampeyan duduk sudah diukur dulu tensinya, duduk di massage chair dipijet sepanjang perjalanan. Kalo mau sambil kerja, HP pas abis baterenya di mobil disediakan plug-innya. Wis to pasti nyaman dan sampeyan sehat. Sampe di Malang bisa seger”.Begitu jelasnya. Sambil ndengerin dia njelasin saya terus mbayangin gila juga investasinya tapi bener-bener excellent idenya, transportasi sehat.
“Berapa biaya ke Malang mas?”, saya tanya untuk ngilangin rasa penasaran saya. “Wooo..murah mas, 35ribu rupiah saja”. “Really?”saya kaget juga dengan jawabannya. “Iya mas, itu harga promosi..ndak jauh beda kok dengan bis yang 20-30ribu”. Seraya nutupin biar nggak keliatan terlalu shock saya bilang “Betul-betul different ya mas”. “Iya, jaman sekarang ini kalo mau sukses ya mesti jadi yang pertama, kalo nggak bisa jadi yang pertama ya harus punya keunggulan, kalo ndak bisa, ya harus be different..harus ada yang beda dari produk-produk lainnya. Dan saya milih untuk jadi yang pertama”. Setelah itu dia berhenti, mungkin dia memang memberi waktu untuk saya bisa menyerap apa yang disampaikannya. Dan dia benar.
Saya masih ingat betul bagaimana para ahli motivasi, marketer, sales dan kayaknya hampir disemua bidang bilang kalo mau maju ya mesti dare to be different atau ada lagi, yang juga popular, thinking out of the box. Kedengerannya sederhana dan mudah..”berani tampil beda, berpikir diluar ‘kotak’”, tapi kita semua tau bahwa itu sama sekali tidak mudah dan itu perlu totalitas berpikir perlu frame of reference dan frame of experience, perlu pembiayaan (?) dan tentu saja perlu komitmen untuk menguraikan dan mengimplemantasikan be different dan out of the boxnya. Kebanyakan kita pandai membuat dan membangun konsep namun kemudian berhenti disitu karena pada umumnya tidak ada yang menguraikan itu sampai ke detil pelaksanaan.
Sayakemudian jadi mencari-cari di memori otak saya kasus serupa dengan mas ‘van sehat’ itu, dan saya menemukan satu..di sebuah pojok jalanan di Jogjakarta (yang ramai dikunjungi turis domestic dan mancanegara), sebuah war-tel memasang pengumuman besar-besar yang isinya: “Dilarang Merokok”, “Do Not Smoke”, “Defens de Fumer”, “Nit Roken”, dan….”Ojo Udud”!. Opo ora different?...
Surabaya, Juni 2006.
PS: Saya ndak jelas apakah sekarang Transportasi Sehatnya itu benar-benar ada dan berkembang apa tidak..kalo iya, itu namanya the power of being bedho. Tapi yang jelas, pada taun-taun itu ide 'travel' dengan kelengkapan seperti itu kayaknya belum terpikirkan oleh banyak orang....Ringroad Utara, Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar